01 September 2008

“MISKINAN YANG MEMBELENGGU PENDIDIKAN”

Di Desa Sidorejo Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang inilah Pondok Pesantren Raudlatul Falah berada. Desa yang jauh letaknya dari kota Rembang, + 30 KM. Di sebelah utara Desa Sidorejo sebenarnya ada jalan alternatif Rembang-Bojonegaro, sehingga desa ini mudah dijangkau dengan kendaraan. Desa yang berjumlah penduduk 8000 orang ini merupakan daerah pedesaan yang dikelilingi sawah dan ladang-ladang. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar petani.

Tapi pertanian di desa ini bukanlah pertanian yang subur ijo royo, pertanian di sini hanya mengandalkan air tadah hujan. sebenarnya dulu daerah ini subur karena sungainya selalu dialiri air dari daerah yang dataranya lebih tinggi, seperti dari Sale dan Pancur. Tetapi air itu sekarang dikelolan oleh Perusahaan Air Minum dan dialirkan ke kota. Jadi sekarang daerah ini menjadi kering, tanaman padi hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun. Jika ada yang sampai dua kali, inipun harus mengambil air dari sungai dengan menggunakan diesel yang biayanya sangat mahal. Untuk mengairi satu petak sawah (+ 100 m) bisa sampai 5 jam dan biayanya sampai 400.000. Jika tanam padi harus mendisel air dari sungai jelas bianya tidak sebanding, belum pupuk dan pekerjanya.

Karena itu untuk menyiasati banyaknya biaya tanam padi, maka penduduk desa ini sawahnya ditanami Tebu yang dipanen setahun sekali. Petani di kawasan Kec. Pamotan banyak yang melakukan hal ini untuk karena tebu tidak membutuhkan banyak air dan biaya pupuk bisa dipinjamkan pada orang yang biasa membeli tebu mereka. Tetapi bagi petani-petani kecil yang hanya mempuyai sawah sedikit bisanya lebih memilih menyewakan sawah pada orang-orang yang punya modal, atau berkerjasama dengan mereka. Dengan melakukan kerjasama dengan pemodal mereka tidak pusing soal biasa penanam, pupuk, perawatan dan penebangan, pemodal juga yang akan membeli tebu tersebut.

Dari segi ekonomi masyarakat di Sidoerejo rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Rumah-rumah masyarakat kebanyakan terdiri dari rumah kayu dan bambu. Penghasilan penduduknya mayoritas hidup di bawah garis UMR, yaitu berpenghasilan Rp 7.500-15.000 sehari. Akibatnya, banyak sekali anak usia sekolah yang tidak bisa meneruskan pendidikan sekolah umum karena biayanya mahal. Generasi-generasi penerus bangsa ini pada dasarnya sangat berkinginan untuk maju, namun semuanya terbentur oleh biaya. Walhasil, banyak anak usia sekolah yang akhirnya bersekolah di Madrasah Diniyah yang bayarnya Rp 2.500,- perbulan, juga bisa berdasarkan kemampuan dan bisa dihutang. Pendidikan di masyarakat Desa ini sangat tertinggal, persentase dari seluruh penduduk, hanya 20 % yang sekolah di SLTA, sedangkan yang di SMP/SLTP hanya 60-70 %.

Padahal, saat ini pendidikan dasar 9 tahun mestinya sudah dinikmati seluruh penduduk dari seluruh penjuru negeri. Anak-anak yang mampu meneruskan sampai SMA ini adalah orang yang agak mampu secara ekonomi. Memang ada beberapa orang yang sampai tingkat Perguruan Tinggi. Mereka yang melanjutkan sampai ke Perguruan Tinggi merupakan anak-anak orang kaya di desanya, atau orang-orang para guru yang melanjutkan studi karena tuntutan profesi.

Gambaran kemiskinan sebenarnya bukan saja untuk daerah Pamotan, kemiskinan sudah menjadi wajah kabupaten Rembang, karena itu Rembang masuk dalam daftar daerah tertinggal yang tingkat kemiskinan tergolong tinggi. Hampir 38 % dari sekitar 650 ribu penduduk Rembang, menurut data BPS, dikategorikan miskin. Kemiskinan meningkat drastis menjadi sekitar 60% pada saat program Bantuan Langsung Tunai (BLT) diluncurkan pemerintah pusat. Jika melihat data keluarga miskin tahun 2005, separuh lebih dari jumlah KK di beberapa Kecamatan tergolong miskin. Selain keminkinan Rembang terkenal dengan pengangguran dan anak-anak putus sekolah.

Data Kemiskinan Kecamatan di Rembang tahun 2005

KECAMATAN

JUMLAH KK

KEMISKINAN

Pamotan

11280

8648

Sulang

9555

4524

Kaliori

10171

8032

Rembang

20325

11050

Pancur

6765

5292

Kragan

14862

9636

Sluke

6924

5613

Lasem

11149

5530

Sumber dari : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri; http://www.pnpm-mandiri.org

Sebagian besar anak-anak putus sekolah banyak yang mencari kerja serabutan dan merantau ke Jakarta atau Surabaya. Di Kota rantau mereka bekerja serabutan, mayoritas mereka bekerja menjadi buruh bangunan, ada juga yang berkerja sebagai sopir dan buruh pabrik. Prinsip mereka bekerja apa saja asal tidak menganggur di kampung halamam.

PEMASALAHN PENDIDIKAN

Permasalah yang sangat mendesak untuk ditangani di daerah Pamotan juga daerah lain di Rembang adalah menolong generasi-generasi yang masuh muda belia putus sekolah. Dengan meningkatkan mutu pendidikan secara tidak langsung juga meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia di daerah Rembang.

Saat ini sebagian besar anak-anak Rembang tertolong dengan adanya Bantuan Oprasional Sekolah, sehingga beberapa sekolah tinggkat dasar SD/MI dan SMP/MTs ada yang gratis. Hanya beberapa sekolah paforit yang memungut biaya tambahan karena menambah pelajaran-pelajaran ektrakokulikuler.

Tingkat partisipasi pendidikan di Rembang memang sangat minim, berdasarkan data dari Diknas Rembang APK (angka partisipasi kasar) SMP/SLTP tahun 2006/2007 pada usia 12-15 tahun masih berjumlah 86,30 %. Padahal, target APK untuk MTs/SLTP tahun 2008/2009 adalah 90 %. Masih ada kekurangan 3,70 % lagi untuk memenuhi target yang tinggal setahun itu. Meski tingkat APK untuk SLTP sudah lumayan bagus, namun untuk tingkat SLTA menunjukkan angka yang memprihatinkan, yaitu masih di bawah 36 %, Artinya, anak-anak usia sekolah 16-18 tahun sangat banyak yang belum sekolah atau tidak sekolah. Hal itu bisa jadi karena faktor orang tua, soal kesulitan ekonomi, fanatik terhadap SMA tertentu, jumlah SLTA masih belum terjangkau atau memadai dengan jumlah penduduk, dan sebagainya.

Tidak ada komentar: